Khotbah
Your Treasure ( Hartamu )
Ps. Novenny Rialenna
Ringkasan Khotbah
Apa yang sebenarnya menjadi harta kita? Apa yang kita anggap sebagai harta akan menentukan kemana hati kita pergi.
Luk 12:34 dikatakan Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (NET) For where your treasure is, there your heart will be also.
Ini berbicara bukan apa yang kita punya, namun harta di sini berbicara tentang hati kita; kemana hati kita terpikat, hati kita terikat. Apa yang kita kejar setiap hari, apa yang kita pikirkan lebih banyak, apa yang membuat kita rela mengorbankan waktu kita, apa yang membuat kita merasa aman, apa yang membuat kita takut kehilangan dan jawaban atas pertanyaan tersebut dapat menunjukkan dimana hati kita sebenarnya berada.
Hati berbicara tentang perasaan, pikiran, keinginan, nilai-nilai kehendak dan keputusan kita. Hartamu adalah hatimu. Hati adalah pusat kehidupan kita. Apa yang paling penting bagi kita akan mempengaruhi cara kita berpikir, apa yang kita inginkan, keputusan yang kita ambil dan akhirnya bagaimana kita menjalani hidup itu tergantung dengan hati kita. Apa yang paling penting bagi kita perlahan-lahan itu yang akan menjadi harta kita, dan jika harta kita adalah uang maka hati kita akan terus kejar uang. Jika harta kita adalah status maka hati kita akan mengejar pengakuan dan jika harta kita adalah kesenangan maka hati kita akan terus mencari kesenangan, tetapi jika Tuhan yang menjadi harta kita maka hati kita akan diarahkan kepada Tuhan.
Dalam Luk 12:22-35 berbicara tentang kekhawatiran hidup, dan contoh yang diberikan adalah burung-burung gagak.
Luk 12:24 Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu!
Ini bukan berarti kita boleh malas atau tidak bekerja tetapi Tuhan mengajarkan bahwa jangan sampai kebutuhan kita membuat kita lupa kepada siapa kita bergantung yang akhirnya kita kuatir. Tidak benar jika kita tidak memiliki harta kekayaan maka kita pasti akan kuatir, jadi kita tidak kuatir apa yang akan kita makan, kita pakai karena harta kekayaan dunia bukanlah jaminan untuk hidup tenang dan nyaman selamanya. Apa yang memberi kita hidup itu bukan uang kita, tetapi karena Allah yang memelihara kita. Kita boleh memiliki harta tapi jangan sampai harta memiliki hati kita.
Luk 12:20-21 merupakan kisah seorang yang kaya tetapi bodoh. Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? 12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah
Orang ini mengumpulkan harta yang salah karena ia tidak kaya di hadapan Allah. Ketika kita mendapatkan kekayaan, kekayaan itu akan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan atau membuat kita semakin menjauh dari Tuhan? Seseorang bisa saja memiliki banyak harta tetapi miskin di hadapan Allah. Jika hari ini kita masih ada, Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk mengejar yang penting dan berarti dalam hidup ini. Kesempatan hidup yang Tuhan berikan kepada kita hari ini adalah kesempatan untuk mengatur kembali prioritas hidup kita. Untuk itu kita harus menentukan dimana hati kita berada.
Luk 15:11-32 ini dapat mengukur posisi hati kita saat ini :
1. Anak Bungsu
Luk 15:11-13 Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.
Anak bungsu pergi jauh itu menggambarkan pemisahan dari kasih, persekutuan dan kuasa Allah. Harta terkadang membuat kita menjauh dari pada Tuhan. Orang yang mundur imannya adalah seperti anak bungsu ini yang memburu kesenangan dosa, yang memboroskan karunia-karunia jasmani, karunia-karunia rohani yang diberikan Allah. Dosa memisahkan kita dari Tuhan. Hidup terpisah dari persekutuan Allah adalah kematian rohani. Jadi anak yang keluar dari rumah bapanya melambangkan kematian secara rohani.
Seseorang yang percaya kepada Tuhan dapat berada dalam keadaan jauh dari Tuhan di dalam hatinya sehingga mengakibatkan timbulnya kekecewaan, ada rasa malu dan kehilangan hidup yang benar. Kita bisa jauh dari Tuhan bukan karena Tuhan pergi tetapi karena hati kita memilih untuk pergi, kita menikmati, mengejar apa yang kita anggap penting. Mari kita mengatur prioritas kita kembali.
Jadi yang harus kita lakukan jika posisi kita seperti anak bungsu ini adalah:
Ø Menyadari keadaan
Ø Dengan rendah hati kembali kepada Bapa
Ø Mengakui dosa dan bersedia melakukan apa yang diminta Bapa
Anak bungsu mengalami pertobatan tetapi bukan hanya merasa bersalah saja tetapi harus berbalik dan kembali kepada Bapa. Jauh dari Tuhan tidak akan pernah membuat hidup kita jadi lebih baik.
Luk 15:22-24 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 15:23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 15:24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.
Ketika kita menyadari keadaan kita, berbalik maka Tuhan adalah Allah yang penuh dengan belas kasihan, yang sudah mau menunggu dan menantikan kita kembali. Pertobatan kita merupakan sukacita Allah.
2. Anak Sulung
Luk 15:28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.
Anak Sulung melambangkan anak Tuhan yang kelihatan secara lahiriah menaati perintah Allah tetapi hatinya jauh dan terpisah dari Tuhan dan tujuannya. Anak sulung ini tidak mengenal hati bapanya karena ia tidak mengasihi bapanya dengan hatinya. Kedekatan secara lahiriah belum tentu berarti kedekatan dengan hati bapa.
Seorang yang rajin pelayanan, tidak melanggar perintah-Nya, belum tentu mengenal dekat dengan Bapa. Kita rajin beribadah tetapi tidak mengenal Tuhan secara pribadi karena kita kurang mengasihi Tuhan, kita kurang meluangkan waktu bersama Tuhan kita kurang berkomunikasi dan bersekutu dengan Tuhan. Mari periksa hati kita.
Mat 6:20Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Mari jadikan Tuhan yang menjadi harta kita.
Foto Kegiatan
