Joinwith us
Kembali

Khotbah

Doa ( Benih & tanah )

Ps. Himawan Leenardo

10 views

Ringkasan Khotbah

Kuasa doa terjadi ketika ada iman, iman terhadap Firman Tuhan/janji Tuhan yang Tuhan berikan kepada kita, dimana kita ini adalah anak-anak-Nya.

1Kor 3:6 Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.   

Yang kita tabur adalah Firman Tuhan. Di dalam kita berdoa kita harus memperkatakan Firman Tuhan, janji Tuhan terhadap apa yang menjadi tantangan, persoalan kita, dsb.

Yeh 37:1,10 Lalu kekuasaan TUHAN meliputi aku dan Ia membawa aku ke luar dengan perantaraan Roh-Nya dan menempatkan aku di tengah-tengah lembah, dan lembah ini penuh dengan tulang-tulang. Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat  besar    

Tulang kering menjadi suatu tentara yang besar tidak lepas dari beberapa proses yang harus dilewati.

Yeh 37:4 Lalu firman-Nya kepadaku: "Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN!     

Prosesnya adalah : Dengar Firman –> Perkatakan Firman –> Transformasi (Perubahan) terjadi. Proses yang kita alami tidak selalu membuat kondisi langsung berubah, karena ada faktor yang mempengaruhi hal tersebut yaitu Benih & Tanah.

 

BENIH & TANAH

Mat 13:19-21 Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad     

Benih berbicara tentang Firman Tuhan dan tanah berbicara tentang hati kita. Faktor tanah sangat mempengaruhi pertumbuhan benih/Firman Tuhan yang ditaburkan.

Ada 4 macam tanah hati kita:

➢   Tanah yang keras : benih jatuh di pinggir jalan, tidak tertanam dan benih itu habis dimakan burung.

➢   Tanah yang berbatu : karena tidak berakar, tanahnya sedikit, banyak batu/penghambat, maka benih tumbuh sebentar lalu mati.

➢   Tanah bersemak duri: benih ditabur dan datanglah kekuatiran akan dunia, dunia menghimpit dan akhirnya benih mati

➢   Tanah yang baik: benih berakar, bertumbuh dan berbuah

 

Yak 1:22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri          

Tuhan ingin kita tidak hanya menjadi pendengar saja, namun menjadi pelaku Firman. Jika tanah hati kita keras, maka benih Firman tidak menjadi apa-apa dalam hidupnya, karena ia hanya menjadi pendengar bukan pelaku Firman. 

 

Luk 6:46 "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?     

Yang menjadi penghambat sehingga Tuhan tidak menolong adalah kita hanya menjadi pendengar Firman tetapi kita mengabaikan dan tidak melakukan Firman.

 

Beberapa tanda orang yang hatinya keras:

1.        Menolak teguran Tuhan

Ayub 33:14-18  Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya. Dalam mimpi, dalam penglihatan waktu malam, bila orang nyenyak tidur, bila berbaring di atas tempat tidur, maka Ia membuka telinga manusia dan mengejutkan mereka dengan teguran-teguran untuk menghalangi manusia dari pada perbuatannya, dan melenyapkan kesombongan orang, untuk menahan nyawanya dari pada liang kubur, dan hidupnya dari pada maut oleh lembing.     

Teguran itu sesungguhnya sesuatu yang baik, Tuhan menegur kita karena Dia mengasihi kita. Bagaimana sikap kita ketika ditegur? Menolak? Mengabaikan? Atau menerima dan memperbaiki diri? 

Luk 15:17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.      

Teguran seharusnya membuat seseorang menyadari keadaannya. Jangan terus bandel hingga mengalami keadaan karena konsekuensi ketidaktaatan menyadarkan kita, karena kita akan susah, menderita dalam keadaan yang demikian.

Maz 119:67 Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu.  

·         Manusia memperhatikan teguran ketika terjadi krisis/guncangan.

·         Krisis menghancurkan kebenaran diri sendiri dan benteng dalam pikiran.

     

 

2.      Menyangkal – Denial

Mat 26:34 Yesus berkata kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali."   

Jika kita sering menolak teguran, lama-lama kita akan menjadi orang yang mudah menyangkal.

Ciri orang yang menyangkal:

➢   Selalu menemukan alasan untuk pembenaran diri sendiri.

➢   Menyalahkan orang lain atas permasalahan yang ada.

➢   Mengabaikan nasihat/teguran dari orang-orang yang peduli kepada dirinya.

 

Beberapa tahap penyangkalan:

➢   Semua fakta ditolak sama sekali.

➢   Mengakui fakta tetapi menolak dampaknya.

➢   Fakta diakui, dampak diakui tetapi diabaikan.

➢   Tidak punya keinginan untuk berubah.

 

Denying the truth doesn’t change the fact (Menyangkal kebenaran tidak mengubah fakta)

Yoh 21:15-17 Kisah Simon Petrus ini merupakan titik awal setelah berbagai hal yang terjadi salah satunya ia telah menyangkal Yesus dan dalam kisah ini Tuhan bertanya “apakah engkau mengasihi Aku?”    

Ketika seseorang berbalik kepada Tuhan maka yang harus ia lakukan adalah:

➢   Jangan abaikan teguran-teguran.

➢   Sadari bahwa Tuhan maha tahu dan Tuhan selalu benar.

➢   Jangan terus keraskan hati dan terus menyangkal.

➢   Rendahkan diri secara sukarela.

➢   Ubah apa yang harus diubah.

 

 

Yeh 36:25-26 Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.  

Air yang jernih berbicara tentang Roh Kudus. Untuk dapat mengubah dan melembutkan tanah hati kita yang keras diperlukan Roh Kudus untuk menjamah kita.

Seorang petani sebelum menaburkan benih maka yang harus dilakukan adalah membajak tanah. Demikian dengan hati kita, apabila hati kita keras harus dilembutkan dengan cara dibajak terlebih dahulu sebelum benih Firman Tuhan ditaburkan. Dibajak di sini berarti kita harus banyak diam dalam hadirat Tuhan; kita memuji dan menyembah Tuhan.

Maz 95:6-8 Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun 

Ketika kita menyembah Tuhan sesungguhnya hati kita yang dilembutkan. Untuk itu setiap kita beribadah mari datang lebih awal, minum lebih banyak melalui penyembahan yang dinaikkan supaya tanah hati kita dilembutkan, sehingga ketika benih/Firman Tuhan ditaburkan maka akan terjadi perubahan dalam hidup kita.

Foto Kegiatan

Doa ( Benih & tanah ) | GBI WFC